Kontrofersi Besaran Sewa Tanah Sampit

0

BANYUWANGI, IN.id – Pengelolahan tanah negara bekas perumahan pengungsi Sampit akibat bentrok ras beberapa tahun lalu, akibat bentrok yang cukup banyak menelan korban jiwa.

Dari peristiwa tersebut demi menyelamatkan nyawa manusia maka pemerintah Indonesia menarik mundur masyarakat ras Madura dan Jawa kembali ke kampung halaman masing masing.

Namun, khususnya di Desa Bengkak Kecamatan Wongaorejo Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, tanah yang terletak di Dusun Possumur Desa Bengkak, para penggusi tidak bertahan lama menempati tanah seluas kurang lebih 3 Hektar.

Demi menjaga aset negara maka Kepala Desa Bengkak H. Mustain Ramli, S.Ag, tanah negara tersebut disewakan kepada masyarakat sekitar, sebagai Pendapatan Aset Desa (PAD, red).

Kepada independentnews.id di ruang kerjanya mengatakan, demi menyelamatkan aset negara maka Kepala Desa mengelolah tanah bekas perumahan pengungsi Sampit atas perintah Camat Wongsorejo Banyuwangi.

“Demi menyelamatkan tanah tersebut dari orang orang yang tak bertanggung jawab maka tanah seluas kurang lebih 3 H, maka saya sewakan sebagai pendapatan Desa”, tuturnya.

Lebih lanjut disampaikan, tanah tersebut keseluruhan disewakan 10 juta, namun tidak lunas.

“Tanah itu saya sewakan Rp10 juta, namun samapai hari ini penyewa hanya bayar Rp 3 juta, dalam perjanjian dibayar bulam Maret 2020, tapi sampai hari ini belum lunas, untuk penjualan kayu di atas lahan tersebut hanya laku Rp. 7 juta”, lanjut H. Mustain panggilan akrab kepala Desa Bengkak.

Sementara di tempat terpisah penyewa lahan tersebut saat ditemui di rumahnya menuturkan, bahwa tanah seluas tersebut terbagi dua disebabkan jalan Desa.
“Untuk selatan jalan sewanya Rp. 5 juta, dan saya sudah membayar Rp. 2.500.000, dan sisanya nunggu hasil, selain tanah saya telah membayar uang kayu jati yang saya tanam sejak beberapa tahun, pihak kepala Desa minta pembagian tanaman kayu tersebut, ahirnya kayu tersebut saya beli Rp. 8 juta, dan Kepala Desa minta 1/3 yaitu Rp. 3 juta, dan saya sudah menbayar lunas pembagian kayu tersebut”, terang B. Sarien.

Ditambahkannya, untuk tanah di utara jalan sewanya sama Rp. 5 juta, cuma pihaknya tidak tahu apakah sudah lunas atau tidak.

“Lee (nak, red) tanah utara jalan itu sewanya sama dengan milik saya, soal kayunya di atas tanah tersebut oleh Kepala Desa ke pedagang kayu katanya kayu tersebut laku terjual Rp. 8 juta”, lanjut B. Sarien.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here