SEMARANG | IndependentNews.id | Dua mahasiswa Universitas Diponegoro berhasil meraih Juara 1 Nasional Lomba Esai Pekan Saintek 2026 yang diselenggarakan UKM Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah 1. Tim yang terdiri atas Rafa Tamlikha Efendi, mahasiswa S1 Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip angkatan 2025, dan Bayu Saputra, mahasiswa S1 Kimia Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip angkatan 2024, mengungguli finalis nasional melalui gagasan SEAGRIVA, konsep ekosistem hilirisasi rumput laut untuk memperkuat ekonomi pesisir secara berkelanjutan.
Kemenangan tersebut diperkuat oleh catatan kuantitatif sepanjang kompetisi. Pada tahap penilaian naskah, SEAGRIVA memperoleh 97 dari 100 poin, tertinggi di antara seluruh karya. Rinciannya mencapai 25/25 untuk orisinalitas, 20/20 untuk substansi dan relevansi, 27/30 untuk ketajaman analisis, 15/15 untuk ide aplikatif, dan 10/10 untuk kaidah bahasa.
Pada babak final, tim kembali memperoleh nilai presentasi tertinggi, yakni 80, sehingga menghasilkan nilai akhir 86,8 dan peringkat pertama nasional. Peringkat kedua memperoleh nilai akhir 80,6.
Berdasarkan ketentuan resmi kompetisi, penentuan juara tidak hanya bertumpu pada kualitas tulisan. Nilai akhir merupakan akumulasi 40 persen nilai naskah dan 60 persen nilai presentasi. Sepuluh karya terbaik berhak mengikuti final, dengan waktu 10 menit presentasi dan tujuh menit tanya jawab untuk menguji penguasaan serta kedalaman gagasan.
Tim Undip mengikuti presentasi final secara daring pada 17 Juli 2026. Setelah masuk dalam tiga besar, peringkat akhir kemudian diumumkan pada rangkaian penganugerahan 25 Juli 2026. Kompetisi ini mengangkat tema “Mengakselerasi Riset Berbasis Teknologi Menuju Transformasi Digital”, dengan ruang lingkup sains, teknologi terapan, serta inovasi dan masa depan.
Ketika negara produsen belum menikmati seluruh nilai tambah
Gagasan SEAGRIVA berangkat dari paradoks besar pada komoditas rumput laut Indonesia. Dalam naskah yang disusun tim, data BPS menunjukkan produksi rumput laut Indonesia pada 2022 mencapai sekitar 9,28 juta ton dengan nilai Rp40,85 triliun. Namun, sekitar 66,5 persen disebut masih diekspor dalam bentuk bahan mentah, sementara hanya sekitar 19 persen yang terserap industri domestik.
Situasi tersebut membuat persoalan rumput laut tidak berhenti pada kemampuan Indonesia untuk memproduksi dalam jumlah besar. Tantangan berikutnya justru terletak pada siapa yang menikmati nilai tambah setelah komoditas meninggalkan tingkat petani.
Tim mengambil Jepara, Jawa Tengah, sebagai ruang kajian awal. Naskah mencatat produksi di Kecamatan Mlonggo dan Bangsri sekitar 2.660 ton per tahun. Temuan lapangan yang digunakan tim juga menunjukkan adanya petani yang masih bergantung pada rantai perdagangan konvensional karena keterbatasan fasilitas pengolahan dan akses hilirisasi lokal.
Dari persoalan tersebut, SEAGRIVA dirancang bukan sebagai satu produk tunggal, melainkan model kawasan hilirisasi yang menghubungkan petani, pengolahan, data mutu, pasar, informasi ekonomi, dan pengelolaan karbon dalam satu rantai nilai yang lebih terintegrasi. Jepara dipilih sebagai ruang percontohan karena potensi budidaya pesisirnya sekaligus relevansinya dengan arah hilirisasi dalam RPJMN 2025-2029.
Akuntansi tidak ditempatkan di akhir proses
Salah satu pembeda gagasan ini adalah posisi ilmu akuntansi. Akuntansi tidak baru digunakan ketika produk selesai dan keuntungan hendak dihitung, tetapi ditempatkan sejak proses pengambilan keputusan.
Dalam SEAGRIVA, informasi mutu dan proses dikaitkan dengan biaya, nilai tambah, margin, emisi, serta kesiapan pasar. Perspektif ini memungkinkan keputusan hilirisasi tidak hanya berangkat dari asumsi bahwa mengolah bahan mentah pasti lebih menguntungkan. Setiap pilihan perlu terlebih dahulu dinilai dari nilai ekonomi dan dampaknya.
Pendekatan yang sama diterapkan pada isu karbon biru. SEAGRIVA secara sengaja tidak menyamakan potensi penyerapan karbon dengan kredit karbon yang otomatis dapat diperjualbelikan. Gagasan ini menempatkan pencatatan karbon pada tahap pra-MRV, measurement, reporting, and verification, sehingga data dan batas klaim perlu dibangun terlebih dahulu sebelum bergerak menuju mekanisme yang lebih formal. Pendekatan tersebut sekaligus dirancang untuk mengurangi risiko klaim lingkungan yang berlebihan atau greenwashing.
“Bagi kami, keberlanjutan harus bisa dipertanggungjawabkan dengan data. Akuntansi berperan bukan hanya menghitung hasil akhirnya, tetapi membantu membaca biaya, nilai yang tercipta, dampak lingkungan, sampai batas klaim yang memang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, inovasi tidak berhenti sebagai gagasan yang menarik, tetapi memiliki dasar keputusan yang lebih terukur,” kata Rafa, Jumat (7/8/2026)
Kimia dan Akuntansi bertemu dalam satu rantai nilai
Sementara perspektif akuntansi berfokus pada penciptaan nilai dan pengukuran dampak, ilmu kimia memberikan dasar bagi bagaimana biomassa rumput laut dapat bergerak menuju pemanfaatan dengan nilai tambah lebih tinggi.
Kolaborasi kedua bidang tersebut membuat tim melihat hilirisasi dari dua arah sekaligus. Pertama, bagaimana ilmu pengetahuan dapat membuka peluang pemanfaatan komoditas. Kedua, bagaimana setiap pilihan pengembangan dapat dinilai dari kelayakan ekonomi, dampak, dan keberlanjutannya.
“Kami mencoba agar sains tidak berhenti di laboratorium. Potensi material rumput laut perlu dipertemukan dengan kebutuhan industri, kondisi petani, dan sistem yang memungkinkan hasil riset benar-benar memiliki jalur menuju penerapan. Kolaborasi dengan akuntansi membuat aspek tersebut dapat dilihat dengan lebih utuh,” kata Bayu.
Tidak berhenti sebagai konsep futuristik
SEAGRIVA juga dilengkapi roadmap implementasi hingga 2030. Tahapannya dimulai dari validasi kondisi lapangan dan pembangunan data dasar, kemudian bergerak menuju penguatan sistem mutu dan keterlacakan, pengujian hilirisasi, integrasi informasi ekonomi dan karbon, hingga pengembangan kemitraan serta kemungkinan replikasi di kawasan pesisir lain.
Pendekatan bertahap tersebut menjadi penting karena tim tidak menempatkan SEAGRIVA sebagai proyek yang seluruh komponennya dapat hadir sekaligus. Setiap tahap memiliki indikator keberhasilan, mulai dari tersedianya data produksi dan mutu, meningkatnya akses pasar, terbentuknya kelembagaan lokal yang mampu mengelola kawasan, hingga kesiapan informasi karbon yang semakin baik.
Dalam jangka menengah, konsep ini diarahkan untuk membantu meningkatkan keseragaman mutu, memperkuat posisi tawar petani, membuka akses pasar yang lebih luas, serta membuat keputusan produksi semakin berbasis data. Dalam jangka panjang, model tersebut ditujukan untuk memperkuat ekonomi pesisir dan membuka peluang replikasi hilirisasi di wilayah penghasil rumput laut lainnya.
Kebaruan SEAGRIVA terletak pada upayanya mempertemukan tiga hal yang selama ini kerap dibicarakan secara terpisah, yakni hilirisasi komoditas, transformasi digital, dan pengukuran karbon. Rumput laut tidak lagi hanya dilihat berdasarkan berapa banyak yang dipanen, tetapi juga bagaimana mutunya, nilai ekonominya, informasi prosesnya, dampak lingkungannya, dan sejauh mana manfaat hilirisasi dapat kembali memperkuat masyarakat pesisir.
Bagi Rafa dan Bayu, capaian Juara 1 Nasional menjadi validasi awal terhadap pendekatan lintas disiplin tersebut. Dengan nilai tertinggi baik pada naskah maupun presentasi, kemenangan SEAGRIVA sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi Akuntansi dan Kimia dapat berkontribusi pada persoalan pembangunan yang lebih luas, mulai dari hilirisasi sumber daya, ekonomi biru, tata kelola keberlanjutan, hingga penguatan pengambilan keputusan berbasis data.
Tentang Lomba Esai Nasional Pekan Saintek 2026
Lomba Esai Nasional Pekan Saintek 2026 merupakan kompetisi pemikiran kritis tingkat nasional yang diselenggarakan UKM Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Purworejo. Kompetisi mengusung tema “Mengakselerasi Riset Berbasis Teknologi Menuju Transformasi Digital” dan mempertemukan gagasan mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia dalam bidang sains, teknologi terapan, serta inovasi dan masa depan. Sepuluh karya terbaik melanjutkan kompetisi ke babak final untuk mempresentasikan gagasannya di hadapan dewan juri.
Rafa Tamlikha Efendi (S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro)
