Rujak Dhulit Kalianget Bikin Goyang Lidah, Butuh Perhatian Pemerintah

  • Whatsapp

SUMENEP, IN.ID | Makanan khas yang biasa dicari orang Madura khususnya para kaum hawa, Rujak Dhulit yang ada di Kota Tua Kalianget Kabupaten Sumenep ujung timur pulau garam Madura, bisa membuat para lidah pembeli bergoyang-goyang.

Rujak Dhulit yang berada di kota tua Kalianget yang dijual oleh Lilik Asura Nur Afiya, berlokasi di jalan Raya Kalianget sebelah timur masjid Babussalam atau Kantor UPT Pendidikan di Dusun Kebun Kelapa RT.07/RW.03, Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep.

Bacaan Lainnya

Bahan untuk pembuatan kuah Rujak Dhulit tersebut terdiri dari, pettis Madura, garam Madura, penyedap, gula merah (gula Jawa), cabe rawit, air dan cuka.

Sedangkan bahan makanan yang diisikan untuk Rujuk Dhulit adalah buah-buahan, kacang-kacangan dan sayur-sayuran seperti, mentimun, kedondong, bengkuang, kecambah, kangkung, keripik singkong sebagai tambahan camilannya.

Harga satu porsi Rujak Dhulit tersebut yang bisa membuat lidah pembeli bergoyang cukup terjangkau hanya seharga Rp. 7.000,- sudah juga bisa membuat mata pengendara yang lelah akibat berkendara bisa menjadi melotot dan segar kembali.

Selain Rujak Dhulit, tempat tersebut menyajikan masakan khas Madura yaitu soto kikil sapi dengan harga Rp. 8.000/porsi, es kelapa muda yang bisa menyegarkan tenggorokan dan bermacam ragam aneka sosis yang banyak digemari oleh anak-anak.

Lokasi Rujak Dhulit itu berada di pinggir Jalan Raya Kalianget akses untuk tempat wisata Kota Tua, Pantai Gili Labak, ziarah makam Asta Yusuf dan akses lalu lalang masyarakat kepulauan dan daratan yang ingin ke kota Sumenep maupun ke kepulauan.

Lokasi penjual Rujak Dhulit tersebut cocok untuk dijadikan tempat persinggahan/peristirahatan sementara bagi para pengendara yang sedang melintas di area Jalan Raya Kalianget, sambil makan Rujak Dhulit yang bisa membuat lidahnya bergoyang.

Fasilitas Tempat Rujak Dhulit tersebut disediakan WiFi dan sound system  yang bisa digunakan untuk karaoke, cocok dijadikan tempat untuk bersantai dan merilekskan pikiran disaat para masyarakat dan pengendara sedang selesai melakukan aktivitasnya.

Dheny mantan pemain orkes bersama istrinya terlihat asyik sedang menikmati suasana tempat tersebut dengan berkaraoke mendampingi sang istri yang sedang asyik makan Rujak Dhulit Lilik Asura Nur Afiya.

“Saya ingin menghibur dan menemani istri yang sedang ngidam Rujak Dhulit ini, sambil melepaskan lelah sejenak saya berkaraoke,” ujar Dheny saat ditanya awak media, Minggu (13/2/2022).

Ternyata suara lagu yang dilontarkan Dheny banyak yang memujinya, karena bagus dan enak didengarnya oleh orang yang berada di sekitar tempat penjual Rujak Dhulit tersebut.

Selain itu, keterangan yang dihimpun media dari Lilik Asura Nur Afiya ibu dari satu anak itu mengatakan bahwa usaha tersebut dilakukan demi untuk menyambung hidupnya dan mencukupi kebutuhan ke-3 adik-adiknya Yatim-piatu yang masih duduk di bangku sekolah.

“Sejak ibu dan bapak saya tiada untuk selamanya dan kebutuhan adik-adik saya, sudah menjadi tanggungjawab saya sebagai saudara yang tertua, untuk kebutuhan tersebut saya mencukupi dengan berjualan seperti ini,” ujarnya dengan penuh harapan perhatian dari Pemerintah, Minggu 13/2/2022.

Mereka bersaudara yang tidak memiliki kedua orang tua nampak kompak saling bekerjasama berjuang dan bekerja keras untuk menjalani hidupnya ditengah dampak pandemi Covid-19 ini, hanya demi untuk kebutuhan sekolah dan sesuap nasi yang dibutuhkan mereka. Mereka bersaudara berharap pihak pemerintah ada kepedulian.

Karena dari itu, guna untuk memulihkan perekonomian masyarakat akibat dampak adanya pandemi Covid-19 dan untuk mengembangkan serta meningkatkan usaha mandiri masyarakat tersebut, sangat membutuhkan perhatian dan peran serta dari Pemerintah Kabupaten dan Desa agar untuk memikirkan dan memberikan program-program bagi pelaku usaha demi untuk perkembangan dan peningkatan usahanya.

Usaha mandiri masyarakat tersebut bisa berjalan dan berkembang, dengan adanya peran serta dari pihak Pemerintah untuk memberikan bantuan sumbangan modal, memberikan program-program seperti pelatihan tata boga dan program Bumdes juga harus berperan, jangan sampai anggaran desa yang dialokasikan untuk Bumdes hanya dipergunakan oleh kepentingan pribadinya oknum saja. (Fnd/Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.