Fast Fashion: Tren Murah yang Mahal Bagi Lingkungan dan Kemanusiaan

FASHION | IndependentNews.id | Istilah fast fashion semakin dikenal dalam beberapa tahun terakhir. Produksi pakaian jenis ini dilakukan dengan cepat, biaya rendah, dan dalam jumlah besar untuk memenuhi keinginan konsumen terhadap tren mode terkini. Dengan harga yang terjangkau, kita bisa dengan mudah meniru gaya busana dari selebriti terkenal, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Tentu saja hal ini menyenangkan, namun di balik itu semua, fast fashion memiliki dampak buruk yang signifikan bagi lingkungan dan manusia. Tren yang murah ini ternyata membawa harga yang sangat mahal bagi bumi dan kehidupan manusia.

Bacaan Lainnya

Apakah kita akan terus menutup mata demi mengikuti tren semata?

Dampak Lingkungan
Industri fast fashion adalah penyumbang besar polusi air dunia. Proses pewarnaan tekstil dilakukan dengan menggunakan bahan kimia berbahaya yang limbahnya langsung dibuang ke sungai tanpa pengolahan.

Sungai-sungai di negara, seperti Bangladesh, India, dan Tiongkok tercemar parah sehingga mengancam kehidupan manusia dan ekosistem di sekitarnya. Bahkan menurut World Bank (2019), industri tekstil bertanggung jawab atas 20% pencemaran air global.

Selain itu, budaya konsumtif fast fashion menyebabkan penumpukan pakaian bekas di tempat pembuangan sampah. Banyak konsumen membeli pakaian hanya untuk sekali pakai, lalu setelah itu membuangnya. Global Fashion Agenda (2022) mencatat industri fashion menghasilkan 92 juta ton limbah tekstil per tahun.

Contohnya, Gurun Atacama di Chili menjadi tempat pembuangan pakaian bekas dari negara maju. Tumpukan pakaian yang menggunung tersebut menciptakan masalah lingkungan yang sangat serius.

Tak hanya itu, fast fashion juga membutuhkan energi yang sangat besar, baik untuk proses produksi maupun pengiriman internasional. Laporan UNEP (2019) menyebutkan industri fashion menyumbang 10% emisi karbon global. Data tersebut melebihi total emisi karbon dari penggabungan di sektor penerbangan dan pelayaran.

Dampak Sosial
Kebanyakan produk fast fashion dihasilkan di negara-negara berkembang, seperti Bangladesh, Vietnam, dan Kamboja. Para pekerja, khususnya perempuan, sering bekerja dalam kondisi yang buruk dan dengan upah yang sangat rendah. Tragedi runtuhnya gedung Rana Plaza di Bangladesh pada tahun 2013 menjadi gambaran nyata dari sisi kelam industri ini.

Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 1.100 pekerja dan melukai ribuan lainnya. Sebelum tragedi tersebut terjadi, bangunan sudah menunjukkan keretakan, tetapi pekerja tetap dipaksa untuk bekerja hingga pada akhirnya bangunan itu runtuh.

Selain itu, untuk menghemat biaya produksi, banyak pabrik yang mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Laporan dari Human Rights Watch (2016) menyatakan bahwa anak-anak sering kali terpaksa bekerja di pabrik tekstil tanpa perlindungan hukum yang memadai.

Sementara itu, para pekerja perempuan juga rentan mengalami diskriminasi, pelecehan, serta dipaksa bekerja lembur dengan upah yang jauh dari layak.

Penyebab Popularitas Fast Fashion
Harga terjangkau dan perubahan tren yang begitu cepat mendorong konsumen untuk terus membeli pakaian baru. Hal ini menciptakan pola konsumsi yang serba instan: “beli, pakai sekali, lalu buang.”

Peran media sosial sangat signifikan dalam mempercepat siklus ini. Melalui influencer dan iklan yang gencar, generasi muda didorong untuk selalu mengikuti tren mode tanpa mempertimbangkan dampaknya. Akibatnya, pakaian tidak lagi sekadar kebutuhan, melainkan menjadi simbol status dan gaya hidup.

Solusi
Peran konsumen sangat penting dalam mengurangi dampak negatif fast fashion. Pertama, mulai menerapkan gaya hidup slow fashion dengan memilih pakaian berkualitas tinggi yang tahan lama dan diproduksi secara etis.

Kedua, dukung merek yang mengutamakan kelestarian lingkungan dan hak-hak pekerja.

Ketiga, pilih untuk membeli pakaian bekas atau thrifting guna mengurangi limbah tekstil.

Keempat, biasakan berpikir kritis sebelum membeli dengan bertanya.

“Apakah saya benar-benar membutuhkannya?”
Terakhir, manfaatkan kembali pakaian lama dengan cara mendaur ulang, menyumbangkan, atau menjualnya kembali.

Penutup
Fast fashion memang menawarkan pakaian dengan harga murah dan tren yang cepat berganti, tetapi dampaknya sangat merugikan lingkungan dan kesejahteraan pekerja.

Sebagai konsumen, kita memiliki peran penting dalam mengubah situasi ini. Dengan berbelanja secara bijak dan mendukung praktik produksi yang berkelanjutan, kita turut menjaga lingkungan, menghargai hak-hak pekerja, dan melindungi masa depan planet ini.

Setiap tindakan kecil kita menjadi langkah penting menuju dunia yang lebih adil dan berkelanjutan. Apakah kita akan terus mengorbankan masa depan hanya demi tren sesaat?

Penulis: Aira Dinar Prianka

Pos terkait