Tim PKM Prodi PPKn UNESA Gencarkan Madrasah Anti Kekerasan

TUBAN | IndependentNews.id | Pesantren Ash Shomadiyah Tuban menjadi pusat perhatian setelah Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sukses melaksanakan program pengabdian masyarakat bertajuk Madrasah Anti Kekerasan pada 21–22 Agustus 2025. Selama dua hari, puluhan guru dari RA, MI, MTs, hingga MA di bawah naungan pesantren terlibat aktif dalam berbagai rangkaian kegiatan yang bertujuan memperkuat pemahaman dan keterampilan mereka dalam menciptakan lingkungan
belajar yang aman, inklusif, dan bebas kekerasan.

Kegiatan yang dipimpin langsung oleh tim Unesa bersama para pakar dari bidang filsafat Pancasila, hukum, gender, sosiologi pendidikan, dan psikologi pendidikan ini menghadirkan materi yang menyentuh aspek teori hingga praktik. Guru diajak mengenali berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, maupun psikologis, serta memahami regulasi nasional yang melindungi hak anak di dunia pendidikan. Selain itu, mereka juga mendapat pelatihan tentang cara membangun komunikasi positif dengan santri, mengelola emosi di kelas, hingga membuat mekanisme pelaporan dan pendampingan apabila terjadi kasus kekerasan.

Bacaan Lainnya

Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Guru-guru tampak bersemangat bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman terkait tantangan dalam mendidik santri. Banyak diantara mereka yang mengaku baru sadar bahwa ungkapan atau teguran tertentu yang dianggap “biasa” bisa masuk dalam kategori kekerasan verbal atau kekerasan psikologis. Seorang guru MI menuturkan, pelatihan ini membuka kesadarannya bahwa tugas pendidik bukan hanya mentransfer ilmu, melainkan juga menjaga perasaan dan martabat santri sebagai manusia.

Dampak kegiatan ini terasa nyata, seperti guru-guru kini memiliki pemahaman yang lebih luas
mengenai bentuk dan bahaya kekerasan, serta memiliki pedoman yang lebih jelas dalam menanganinya. Pesantren Ash Shomadiyah juga berhasil merumuskan SOP internal untuk mendeteksi dan merespons indikasi kekerasan dengan cepat, sehingga santri merasa lebih
terlindungi. Hubungan antara guru dan santri pun mulai terbangun lebih empatik dan terbuka, menciptakan suasana belajar yang lebih sehat.

Keberhasilan kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi Ash Shomadiyah, tetapi juga berpotensi menjadi model percontohan bagi pesantren lain di Tuban dan Jawa Timur.

Melalui program ini, UNESA berhasil menegaskan komitmennya bahwa pendidikan tanpa kekerasan bukanlah sekadar wacana, melainkan sebuah gerakan nyata. Para guru kini tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pelindung dan agen perubahan yang menjaga hak serta keselamatan santri. Dengan kolaborasi antara akademisi dan pesantren, cita-cita menghadirkan madrasah yang ramah anak dan bebas dari kekerasan semakin dekat untuk diwujudkan. (Vito DF)

Pos terkait