SURAKARTA | IndependentNews.id | Pusat Pengkajian Kebijakan dan Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia (P2 KPK SDM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Surakarta menyelenggarakan Pelatihan Kompetensi Interpersonal dan Sosial bagi ASN pada Senin (13/7).
Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Lantai III Gedung Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Kompleks Balai Kota Surakarta. Pelatihan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Research Group (RG) P2 KPK SDM LPPM UNS yang diketuai oleh Dr. Leny Noviani, M.Si. Kegiatan ini menjadi wujud kontribusi UNS dalam mendukung pengembangan kapasitas ASN melalui penguatan kompetensi nonteknis yang semakin dibutuhkan dalam penyelenggaraan
pemerintahan modern.
Pelatihan diikuti oleh 35 ASN yang berasal dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Surakarta. Setiap OPD mengirimkan satu orang perwakilan yang diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam mengembangkan kompetensi interpersonal dan sosial di unit kerjanya masing-masing.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua P2 KPK SDM LPPM UNS, Dr. Atik Catur
Budiati, M.A., yang menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan kerja sama yang telah terjalin antara LPPM UNS dan BKPSDM Kota Surakarta. Menurutnya, pengembangan kompetensi ASN tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga harus memperkuat kompetensi kepribadian dan sosial yang menjadi fondasi dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas.
“Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam pengembangan kompetensi ASN, khususnya pada aspek keterampilan interpersonal dan sosial. Kompetensi tersebut menjadi modal penting dalam membangun kolaborasi, komunikasi, serta budaya kerja yang produktif di lingkungan pemerintahan,” ungkap Atik.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pelatihan dirancang menggunakan pendekatan pembelajaran 10-70-20 yang dikembangkan ke dalam tiga tahapan pembelajaran, yaitu In-1 (In Service Learning 1) berupa pembelajaran di
dalam kelas, On the Job Training (OJT) sebagai implementasi langsung di tempat kerja, serta In-2 (In Service Learning 2) yang berisi refleksi dan berbagi praktik baik antar peserta. Melalui pola tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menerapkan kompetensi yang dipelajari dalam situasi kerja nyata.
“Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti pada pemenuhan kewajiban pengembangan kompetensi ASN, tetapi benar-benar memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas kinerja individu maupun organisasi,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BKPSDM Kota Surakarta, Beni Supartono Putro, S.STP., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang telah dibangun bersama P2 KPK SDM LPPM UNS. Ia menegaskan bahwa kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan kompetensi ASN yang lebih terarah berdasarkan kebutuhan organisasi.
Menurutnya, BKPSDM Kota Surakarta telah melaksanakan pemetaan kompetensi ASN sebagai dasar dalam menyusun program pengembangan kompetensi yang lebih tepat sasaran.
Hasil pemetaan tersebut memungkinkan pemerintah daerah mengidentifikasi kesenjangan kompetensi yang dimiliki ASN sehingga program pelatihan dapat dirancang sesuai kebutuhan.
“Misalnya, apabila hasil pemetaan menunjukkan masih perlunya penguatan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, atau kompetensi personal lainnya, maka pelatihan akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, kami berharap kerja sama dengan P2KPKSDM LPPM UNS dapat terus berlanjut dalam mendukung peningkatan kualitas SDM
ASN di Kota Surakarta,” jelasnya.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan ASN dalam berkomunikasi secara efektif dengan diri sendiri, individu lain, maupun tim kerja sehingga mampu memperkuat kolaborasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mendukung pencapaian kinerja organisasi. Selama pelatihan, peserta dibekali berbagai materi yang mencakup pemahaman mengenai kompetensi interpersonal dan sosial dalam pelaksanaan tugas ASN, penerapan selftalk positif untuk meningkatkan kesadaran diri dan pengendalian emosi, keterampilan komunikasi interpersonal melalui active listening, empati, dan pemberian umpan balik yang konstruktif, hingga strategi membangun komunikasi efektif dalam tim kerja untuk meningkatkan koordinasi serta penyelesaian konflik secara produktif.
Materi pelatihan disampaikan oleh Dr. Nugraha Arif Karyanta sebagai fasilitator
kegiatan. Dengan pengalaman dan kepakarannya di bidang pengembangan sumber daya manusia dan psikologi, fasilitator mengajak peserta untuk memahami pentingnya membangun
kesadaran diri, mengelola emosi, mengembangkan komunikasi yang efektif, serta memperkuat kolaborasi dalam lingkungan kerja.
Proses pembelajaran berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, refleksi, studi kasus, dan berbagai aktivitas yang mendorong peserta mengaitkan konsep dengan tantangan nyata yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas sebagai ASN. Sebagai bagian dari proses pembelajaran, peserta juga akan melaksanakan On the Job Training (OJT) di instansi masing-masing guna mengimplementasikan keterampilan
yang telah diperoleh selama pelatihan. Hasil implementasi tersebut kemudian akan dipresentasikan pada tahap In Service Learning 2 (In-2) sebagai forum refleksi dan berbagi praktik baik antarpeserta, sekaligus menyusun rencana tindak lanjut untuk pengembangan kompetensi secara berkelanjutan.
Ketua kegiatan pengabdian, Dr. Leny Noviani, M.Si., menyampaikan bahwa pendekatan pembelajaran yang diterapkan dalam pelatihan ini dirancang agar memberikan dampak nyata terhadap perubahan perilaku kerja peserta. Melalui perpaduan antara pembelajaran di kelas, praktik di tempat kerja, dan refleksi atas pengalaman implementasi, peserta diharapkan mampu menginternalisasi kompetensi interpersonal dan sosial sebagai bagian dari budaya kerja profesional. Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah, kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan ASN yang tidak hanya unggul dalam kompetensi teknis, tetapi juga memiliki kemampuan interpersonal dan sosial yang kuat sebagai modal dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan publik yang semakin berkualitas. (Ahimsa/Red)







