Kisah Secangkir Kopi dari Lereng Lawu

  • Whatsapp

KOPI, IN.ID | “Tiap orang punya cara berbeda-beda dalam menyajikan kopi, tetapi begitu tegukan itu jatuh ke tenggorokan, segera saja kita seperti pergi ke surga,” ujar sutradara kawakan asal Amerika, David Lynch.

Ungkapan itu mungkin terdengar berlebihan dan agak kebablasan. Tapi siapa pula yang bisa menyalahkan kegemaran seseorang pada kopi?

Bacaan Lainnya

Tak hanya cara menikmatinya saja yang berbeda, kopi juga punya pengaruh sendiri-sendiri bagi seseorang. Ada seniman yang harus bersanding dengan kopi saat melahirkan karya-karyanya, atau seorang dokter yang mesti mencecap secangkir kopi sebelum memeriksa pasien.

Bahkan sudah bukan rahasia lagi jika banyak pemimpin besar yang ternyata punya kedekatan khusus dengan kopi. Mereka memiliki cerita tersendiri seputar kopi, yang diam-diam telah dibagikan kepada kita.

Sebut saja Benjamin Franklin yang doyan mampir di kedai kopi. Ia kerap menggunakan kedai kopi sebagai tempat berdiskusi dan berdebat. Bahkan dia mengaku hanya di kedai kopi dirinya bisa menemukan kejujuran.

Founding father kita Sukarno juga tidak bisa melewatkan pagi hari tanpa secangkir kopi. Kesukaannya adalah kopi tubruk. Racikannya pun konsisten: satu sendok kopi dengan satu setengah gula.

Setiap pagi dia selalu mengajak semua ajudan dan pegawai istana menikmati kopi sambil sarapan. Saat-saat itulah Bung Karno akan bercerita dan bercanda bersama mereka, sebelum kemudian harus kembali disibukkan dengan rutinitas.

Kisah seputar kopi yang akan saya ceritakan kali ini juga datang dari pemimpin kita sekarang Ganjar Pranowo. Bukan bagaimana dia menikmati kopi, tapi adalah soal kesediaannya berjualan kopi.

Iya gubernur yang satu ini memang kerap mengherankan. Di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah, ia masih sempat-sempatnya mempromosikan kopi. Tentu saja kopi yang dipromosikan adalah produk milik warga para pelaku UMKM. Bukan hanya dari Jawa Tengah saja, tapi juga dari berbagai penjuru tanah air.

Ganjar khusus mempromosikan kopi di Ruang Ganjar, salah satu sekmen yang bisa kita tonton dan ikuti di chanel youtubenya.

Ruang Ganjar itu sendiri sebetulnya adalah tempat dia membagikan pandangan dan pemikirannya tentang apa saja. Sekmen itu dibawakan Ganjar dengan santai dan friendly sambil minum kopi. Sebelum masuk ke pembahasaan utama, biasanya dan selalu, dia akan lebih dulu mengenalkan satu persatu merk kopi yang sudah disiapkan di mejanya.

Dengan jumlah pelanggan youtubenya mencapai lebih dari satu juta orang, tentulah promosi kopi gratis yang dilakukan Ganjar sangat membantu para pengusaha kopi. Mereka senang. Produk kopi mereka bisa makin dikenal luas. Omzetnya pun naik. Bahkan ada satu pengusaha kopi yang tiba-tiba mengirimi kaos bertuliskan produk kopinya kepada Ganjar karena saking gembiranya.

Negara kita punya banyak sekali kopi, dan semuanya enak. Inilah yang mesti terus kita dorong,” katanya.

Seperti pendahulunya, Ganjar menciptakan keakraban dengan orang-orang lewat secangkir kopi. Hanya saja dengan perbaruan teknologi saat ini, Ganjar mampu memanfaatkannya untuk sekaligus membantu para pelaku usaha dalam melebarkan sayap.

Ganjar tak peduli disebut gubernur plus marketing, ataupun gubernur sales. Sebab ia meyakini bahwa majunya UMKM kurang lebih sama artinya dengan berdikari di bidang ekonomi. Ini tak mungkin terwujud tanpa adanya kepedulian dari seorang pemimpin. Kira-kira, itulah kisah secangkir kopi dari lereng Lawu. (Sobar Harahap)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.