Membangun Keluarga Anti Kekerasan di Desa Kademangan Mojoagung

  • Whatsapp

JOMBANG | IndependentNews.id | Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih menjadi persoalan sosial yang sering luput dari perhatian. Banyak orang menganggap masalah di dalam rumah adalah urusan pribadi, padahal dampaknya bisa sangat luas, terutama bagi anak-anak.

Sebagai bentuk kepedulian, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Program Studi S1 PPKn FISIPOL Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengadakan kegiatan bertema “Membangun Keluarga Anti Kekerasan: Penguatan Wawasan Orang Tua dalam Mencegah Kekerasan di Rumah” pada 11–12 September 2025 di Desa Kademangan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini diketuai oleh Dr. Oksiana Jatiningsih, M.Si., dengan anggota tim yakni Prof. Dr. Hj. Raden Roro Nanik Setyowati, M.Si., Prof. Dr. Warsono, M.Si., Dr. Edy Suprianto, S.IP., M.Si., Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba, S.H., M.H., dan Rahmanu Wijaya, S.H., M.H. Selain dosen, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa yaitu Galuh Prihastanti dan Gayu Konita.

Selama dua hari, puluhan orang tua di Desa Kademangan mengikuti penyuluhan mengenai pengertian KDRT, bentuk-bentuk kekerasan (fisik, psikis, penelantaran, hingga kekerasan ekonomi), serta dampaknya bagi pasangan dan anak. Para peserta juga diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai cara membangun rumah tangga yang harmonis tanpa kekerasan.

Di akhir kegiatan, warga bersama tim pengabdian mendeklarasikan komitmen bersama membangun keluarga anti kekerasan. Mereka sepakat menciptakan lingkungan keluarga yang aman, sehat, dan ramah anak.

Menurut salah satu peserta, kegiatan ini sangat bermanfaat. “Selama ini kami mengira KDRT hanya soal pukul-memukul. Ternyata membentak anak atau mengabaikan kebutuhan keluarga juga termasuk kekerasan. Kami jadi lebih paham dan ingin memperbaiki cara mendidik di rumah,” ujarnya.

Ketua tim, Dr. Oksiana Jatiningsih, M.Si., menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif.

“Kami ingin membangun pemahaman bahwa keluarga harus menjadi ruang aman. Dengan komunikasi yang baik dan kasih sayang, kekerasan bisa dicegah agar tidak diwariskan ke generasi berikutnya,” jelasnya.

Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari perangkat desa. Mereka menilai bahwa program edukasi seperti ini penting bagi masyarakat dan perlu terus dilanjutkan di masa mendatang. Dengan dukungan masyarakat dan perangkat desa, program pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan bebas dari kekerasan.

By: Galuh Prihastanti

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *